SENI GRAFIS
A.
Pengertian Seni Grafis
Seni grafis adalah seni dua dimensi yang diciptakan melalui teknik
cetak. Misalnya: cetak sablon (silkscreen), cetak tinggi (seperti stempel), dan cetak datar (lithography). Esensi seni grafis adalah membuat cetakan
yang dapat digunakan untuk mentransfer gambar dari cetakan ke media karya
(misalnya: kertas).
ecara etimologi grafis berasal dari bahasa Yunani, yaitu “graphein” yang
berarti menulis atau menggambar (Susanto, 2002: 47). Grafis dalam bahasa
inggris adalah graph atau graphic yang berarti membuat tulisan, lukisan dengan
cara ditoreh atau digores.
Kata “grafis” mungkin
terdengar seperti istilah “gambar” pada “desain grafis”, namun “grafis” yang
dimaksud disini adalah seni mencetak manual tanpa mesin cetak. Meskipun mesin
cetak adalah teknologi yang lebih canggih saat ini, cetak grafis manual masih
terus digunakan.
Seni grafis ialah suatu karya seni rupa dimana metode pembuatan
menggunakan teknologi komputer maupun metode cetak. Alat yang dipakai untuk
seni grafis ini biasanya memakai kertas atau kain. Seni grafis bija kita jumpai
di berbagai pakaian, iklan, majalah, maupun papan reklame.
Seni grafis bersumber
dari bahasa Yunani yakni Graphein yang artinya “menulis”. Seni grafis umumnya
dimanfaatkan untuk menyampaikan sebuah gagasan atau sebagai alat ekspresi dan
visualisaasi agar memikat ketertarikanAlasannya bisa jadi murni karena pilihan
estetis seorang seniman dalam memilih teknik dan media. Bisa juga karena metode
cetak grafis manual memang lebih efisien dibandingkan dengan mesin cetak,
mengingat mesin cetak hanya efektif digunakan dalam produksi skala besar kelas
industri.
B.
Jenis Karya Seni Grafis dan
Teknik
Cetak Tinggi (Relief)
Cetak tinggi adalah kegiatan perbanyakan gambar melalui alat cetak yang
terdiri dari dua bagian, yaitu: 1. Bagian menonjol (seperti relief), area yang
akan mencetak gambar dan disebut bagian acuan/plat, 2. Bagian non-image, yaitu area lebih rendah yang
sengaja dicukil agar tidak menerima tinta/cat.
Cetak tinggi menurut Rokhmat (1997:40) adalah teknik cetak dengan klise
yang permukaanya tinggi rendah, bagian permukaan yang tinggi adalah tempat
melekatnya pigmen warna yang merupakan penghasil gambar.
Intinya cetak tinggi membuat cetakan seperti stempel, yaitu membuat
relief dengan cara mencukil bahan (biasanya kayu atau karet) agar dapat
mencetak gambar yang diinginkan. Karena dulunya bahan yang sering digunakan
adalah kayu, terkadang teknik ini juga disebut dengan cetak woodcut.
Sekarang bahan karet (lino) menjadi alternatif yang populer juga karena
bahannya yang lunak, sehingga relatif lebih mudah untuk dicukil.
Cetak Datar (Litografi)
Cetak datar melibatkan proses kimia yang akan membuat sebagian permukaan
datar dapat menolak tinta. Litografi adalah teknik yang digunakan untuk
melakukan teknik ini.
Litografi adalah teknik yang ditemukan oleh Alois Senefelder pada tahun
1798. Teknik ini didasarkan pada tolakan kimia minyak terhadap air. Teknik ini
menggunakan batu litograf (limestone) sebagai media gambar yang ingin dicetak
menggunakan tinta/alat gambar berbasis minyak.
Setelah gambar yang ingin dicetak selesai digambar diatas batu litograf,
batu tersebut akan dilapisi oleh beberapa cairan kimia seperti Gum Arabic, Asam
nitrat atau Asam Fosfat, sehingga terjadi reaksi kimia yang akan membuat area
yang di telah digambar menerima tinta litograf.
Setelah proses kimia batu terjadi maka tinta litograf dapat disapukan
pada permukaan batu. Tinta hanya akan melekat pada partikel tinta berminyak
yang telah digambar dan ditolak dibagian lain. Kemudian kertas ditekan oleh
alat press pada batu litograf dan akan mentransfer gambar ke kertas.
Cetak Dalam
Cetak dalam adalah kebalikan dari cetak tinggi, dimana pada teknik ini justru
bagian yang lebih rendah yang akan menghasilkan gambar. Lalu bagaimana caranya
bagian permukaan yang dalam dapat mencetak gambar?
Pertama, Cetak dalam dibuat dengan menggunakna bahan cetak dari
aluminium atau kuningan yang permukaannya ditoreh hingga menghasilkan goresan
dalam.
Kemudian inta akan dibalurkan pada seluruh permukaan cetakan yang telah
ditoreh dalam, kemudian biasanya permukaan akan lap dan hanya menyisakan tinta
yang berada dibagian dalam permukaan. Setelah itu kertas yang sedikit dibasahi
akan di press atau ditempelkan ke permukaan cetakan, kemudian tinta akan berpindah pada kertas.
Jenis-jenis cetak dalam
antara lain: etsa, mezzo tint, drypoint, dsb.
Cetak Tembus / Saring
(Teknik Sablon)
Silkscreen atau kain berpori yang sangat halus akan digunakan sebagai
media cetak. Silkscreen dilapisi oleh pelapis kimia sablon yang akan menutupi
pori-porinya. Setelah itu transfer paper yang memuat gambar yang ingin dicetak
akan ditaruh diatas screen, untuk kemudian disoroti lampu pijar yang cukup
panas.
Setelah disoroti selama 10-15 menit maka desain gambar yang ditaruh
diatas silkscreen akan menempel pada lapisan emulsi sablon di silkscreen.
Bagian tersebut kemudian di spray menggunakan air dan membuat bagian emulsi
sablon yang ditempeli desain gambar mengelupas, membuka kembali pori yang
tertutup oleh emulsi sablon.
Setelah proses diatas, cetakan siap digunakan dengan cara mengaplikasikan
cat sablon diatas cetakan yang ditaruh diatas media cetak (kertas/papan/kaos)
menggunakan rakel (alat perata cat sablon).
C.
Bahan dan Alat untuk
Berkarya Seni Grafis
Alat dan Bahan Seni Grafis
Untuk membuat sebuah karya seni grafis, tentunya diperlukan alat &
bahan sebagai media cetaknya. Untuk itu, dibawah ini akan dipaparkan apa saja
bahan & alat yang dibutuhkan.
|
ALAT |
BAHAN |
|
1.
Pisau 2.
Burin 3.
Pisau pahat 4.
Paku dan besi runcing 5.
Rocker 6.
Screen 7.
Meja sablon 8.
Kamera 9.
Komputer 10.
Printer 11.
Rakel 12.
Alat press bertekanan
tinggi |
1.
Hardboard 2.
Kertas kasa 3.
Besi 4.
Lempeng logam 5.
Batu kapur 6.
Kertas karton 7.
Cat minyak 8.
Tinta 9.
Kertas foto3 10.
Film kamera 11.
Memori kamera 12.
Bahan cuci film
(Termasuk soda api, pembersih, dan pemutih) 13.
Ulano 14.
Kromatin 15.
Cat sablon 16.
Bahan afdruk 17.
Contoh Seni Grafis 18.
Stempel 19.
Banner 20.
Poster 21.
Sablon |




Tidak ada komentar:
Posting Komentar