Minggu, 04 April 2021

GERAK TARI TRADISIONAL BERDASARKAN UNSUR PENDUKUNG & IRINGAN

 


GERAK TARI TRADISIONAL BERDASARKAN UNSUR PENDUKUNG & IRINGAN

Pengertian Tari Tradisional

Tari tradisional adalah tarian yang berkembang dan dilestarikan secara turun-temurun di suatu daerah tertentu. Tarian ini biasanya memiliki berbagai ciri khas yang menonjolkan falsafah, budaya dan kearifan lokal setempat di mana tarian tersebut berkembang. Sehingga dapat ditebak bahwa masing-masing daerah akan memiliki keunikan tersendiri. Terutama di negeri ini, di mana keberagaman masyarakatnya seakan tak terbatas.

Meskipun demikian, sejatinya setiap perbedaan antardaerah tersebut adalah milik kita juga. Seperti dalam pendapat Alwi (2003, hlm. 103) yang menyebutkan bahwa kesenian tradisional adalah kesenian yang diciptakan oleh masyarakat banyak yang mengandung unsur keindahan yang hasilnya menjadi milik bersama (Alwi, 2003 : 1038).

Definisi tari tradisional di atas diperkuat oleh pendapat Sekarningsih & Rohayani (2006, hlm. 5) yang mengungkapkan bahwa seni tari adalah tarian yang telah mengalami perjalanan dan memiliki nilai-nilai masa lampau yang dipertahankan secara turun-temurun serta memiliki hubungan ritual atau adat istiadat.

Kemudian, Hidayat (2005, hlm. 14) berpendapat bahwa tari tradisi ialah tarian yang dibawakan dengan tata cara yang berlaku di suatu lingkungan etnik atau adat tertentu yang bersifat turun temurun.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa tari tradisional adalah tarian yang telah berkembang dari masake masa yang telah melewati waktu yang cukup lama di suatu daerah , adat, atau etnik tertentu sehingga memiliki nilai-nilai estetika klasik yang dilestarikan dari generasi ke generasi.

Ciri Ciri tari tradisional

Tari tradisional memiliki beberapa ciri yang membuatnya berujung pada kategorisasi tradisi. Beberapa ciri tersebut meliputi:

  1. Memiliki pakem atau aturan gerakan dasar yang wajib diikuti.
  2. Diiringi oleh musik tradisional khas daerah setempat.
  3. Mengenakan kostum pakaian tradisional khas daerah setempat.
  4. Diajarkan dan dipelajari secara lisan atau dari mulut ke mulut secara langsung dari generasi lama ke generasi penerusnya.
  5. Mengandung filosofi yang berasal dari buah pikiran kearifan lokal setempat.
  6. Memiliki fungsi sosial adat seperti untuk untuk kepentingan upacara adat atau kegiatan lokal lainnya.
  7. Terkadang memiliki syarat khusus berupa waktu, tempat, dan bahkan hanya beberapa orang terpilih saja yang diperbolehkan membawakannya.

Fungsi Tari Tradisional
Secara umum, Hidayat (2005, hlm. 5) berpendapat bahwa keberadaan tari tradisional memiliki nilai dan hasil guna yang memberi manfaat pada masyarakat khususnya dalam kehidupan sosial.
Sementara itu, Sedyawati (1986 : 179), mengemukakan bahwa fungsi tari tradisional sangat beragam dan bersifat mistik. Contohnya: sebagai pemanggil kekuatan supranatural (ghaib) hingga pemujaan arwah nenek moyang, dan sebagai perlengkapan upacara.
Menurut Soedarsono dalam (Sekarningsih, 2006, hlm.5) fungsi tari tradisional meliputi berbagai sarana untuk upacara adat tergantung dari kebudayaan masing-masing daerah yang memegang tradisi. Fungsi-fungsi tersebut meliputi:
  • Upacara Ritual, dalam fungsi ini tari harus memenuhi kaidah yang telah turun-temurun dijaga menjadi tradisi. Biasanya diselenggarakan pada saat tertentu dan dilakukan oleh orang-orang tertentu pula. Terkadang tari upacara ritual juga harus menyajikan sesaji di tempat-tempat tertentu.
  • Upacara penobatan Raja atau Kepala Adat seperti pada Tari Bedhaya Ketawang dari Jawa Tengah.
  • Upacara kematian seperti pada Tari Mapeliang dari Sulawesi.
  • Upacara untuk membangun rumah seperti pada tari Seru Kju No Gawi di daerah Timor.
Berdasarkan berbagai kutipan dan pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa fungsi tari tradisional terbagi menjadi beberapa peran utama. Yaitu, tari tradisi sebagai upacara adat yang secara khusus berfungsi sebagai sarana upacara agama dan adat, tari untuk bersenang-senang atau tari pergaulan sosial,  dan tari sebagai hiburan teatrikal atau tontonan rakyat.

Jenis Tari Tradisional
Meskipun terdengar sudah mengerucut, sebetulnya tarian tradisional masih memiliki beberapa kategori yang membedakannya. Misalnya, menurut Humardani (1983, hlm. 6) berdasarkan nilai artistik garapannya, tari tradisional dapat dibedakan menjadi beberapa tarian berikut ini.

A. Tari Primitif,
Merupakan tarian yang gerak maupun iringannya masih sederhana. Secara umum dapat dikatakan bahwa penggarapan koreografinya belum dilakukan secara serius. Busana kostum dan tata riasnya juga masih kurang diperhatikan. Tari tradisional jenis ini jarang dipentaskan bahkan sudah jarang dijumpai keberadaannya, kemungkinan tari ini hanya dapat ditemui di daerah terpencil atau pedalaman saja.

Pengertian 
Tari primitif adalah sebuah tarian yang berkembang diruang lingkup masyarakat primitif yang belum memiliki peradaban.
Kehidupan masyarakat primitif masih memiliki kepercayaan animisme dan dinamisme. Tari yang dilakukan lebih menekankan pada penyembahan roh atau arwah leluhur, meminta berkah hujan dan lainnya.

Ciri-Ciri
Ciri yang ditonjolkan dari tari primitif adalah sebuah sifat yang magis dan sakral. Pola hidup masyarakat pada masa itu cenderung percaya bahwa alam memiliki kekuatan yang bersifat magis.
Tarian ini munculnya dilakukan dengan spontanitas, tak ada peraturan-peraturan atau hukum-hukum yang seragam dan tertentu.
Gerakan tari primitif cukup sederhana, seperti menirukan gerakan hewan, menirukan gerakan alam dengan gerakan-gerakan tangan, gerakan kaki, gerakan kepala, dan bergerak melingkar mengelilingi api unggun sambil bersuara yang membangun ritmis dari penari.
Kostum bercirikan kesederhanaan, dalam tari primitif gerak dan iringan yang didominankan. Bertujuan untuk pengungkapan ekspresi yang dilakukan berhubungan dengan permintaan yang dinginkan.

Jenis-Jenis
Tari primitif dibagi menjadi 3 jenis, sebagai berikut.
  1. Tari religius, merupakan tari yang digunakan sebagai sarana upacara, seperti tari pemujaan kepada roh, kesuburan.
  2. Tari dramatik, merupakan tarian yang menggambarkan peristiwa dalam kehidupan mereka, seperti tari perang, tari percintaan.
  3. Tari imitatif, merupakan tarian yang meniru alam sekitarnya dan menirukan sesuatu yang sedang diburu, seperti tari binatang.
Contoh 
  • Tarian Ular, (fungsi untuk mejaga penduduk kampung).
  • Tarian Langgai, (fungsi menyatukan dengan lingkungan dan menjaga lingkungan). 

  • Tari Kuna dan Tari Rontek Singo Wulung, (fungsi untuk meminta turun hujan).
  • Tari Tor-tor, (fungsi untuk ritual dengan Roh).

  • Tari Perang Sanudhe, (fungsi untuk hiburan pada hari besar).
  • Tarian Tellu O'tul, (fugsi sebagai hiburan).
  • Tari Sasemba, (fungsi untuk memberikan kedamaian suku).
  • Tari Tobe, (fungsi untuk mengobarkan semangat prajurit untuk perang).
  • Tari Ketaga, (fungsi untuk memberi semangat prajurit untuk perang).
  • Tarian Hudog, (fungsi untuk mengenang para leluhur).

B. Tari Klasik,
Yaitu tari tradisi yang sudah mapan atau baku baik dari segi gerak, maupun iringannya. Tari klasik merupakan tarian yang sudah mendapatkan banyak perhatian dan biasanya digarap secara serius oleh masyarakatnya dan mendapatkan dukungan penuh dari tetua, bangsawan, atau raja suatu daerah yang telah mencapai nilai artistik cukup tinggi karena telah menempuh perjalanan yang cukup panjang (sudah mengalami masa kejayaan).
Tari klasik merupakan salah satu jenis tari tradisional yang lahir dan berkembang di lingkungan keraton dan sudah ada sejak zaman dulu. Tari klasik biasanya diturunkan secara turun temurun pada kalangan bangsawan.
  1. Tari klasik mempunyai beberapa ciri khas antara lain :
  2. Masih berpedoman pada pakem tertentu
  3. Memiliki makna yang dalam
  4. Tatarias
  5. Kostum yang digunakan para penari
Berikut adalah beberapa contoh tarian klasik beserta gambarnya:

1. Tari Klana
Tari Topeng Klana adalah gambaran seseorang yang bersifat buruk, serakah, penuh amarah dan tidak bisa mengendalikan hawa nafsu. Sebagian dari gerak tarinya menggambarkan seseorang yang tengah marah, gandrung, mabuk, tertawa terbahak-bahak, dan sebagainya.
Tarian ini diiringi oleh lagu dari Gonjing yang dilanjutkan dengan Sarung Ilang. Struktur tarinya seperti halnya topeng lainnya, terdiri atas bagian tari yang belum memakai kedok dan bagian tari yang memakai kedok.


Tari Topeng Klana dibagi menjadi  2 bagian, yaitu:
Bagian pertama, adalah tai roping klana yang diiringi dengan lagu Gonjing dan sarung Ilang.
Bagian kedua, adalah tari Klana Udeng yang diiringi lagu Dermayonan.
Tari topeng Klana sering pula disebut tari topeng Rowana. Sebutan tersebut mengacu pada salah satu tokoh yang ada dalam cerita Ramayana, yakni tokoh Rahwana. Kebetulan, karakternya sama persis dengan tokoh Klana dalam cerita Panji.
Tari topeng kelana diyakini dulu sebagai tari yang hanya dipentaskan di dalam lingkungan kerajaan. tari ini dibawakan oleh sang raja dan hanya dipertontonkan kepada perempuan dalam lingkungan kerajaan.
Tari topeng kelana biasanya dipentaskan oleh laki-laki. Sejalan perkembangan zaman, kini perempuan juga banyak yang mementaskan tarian topeng kelana. Tari topeng kelana biasa beranggotakan oleh 4-6 orang penari.
Gerakan dalam tarian ini memerlukan keluwesan untuk bisa mementaskannya, tapi penampilannya harus terlihat energik dan bersemangat. Tarian dari Jawa Barat ini sangat menarik untuk ditonton.

2. Tari Gambir Anom
Tari Gambir Anom adalah contoh tarian klasik yang berasal dari Surakarta Jawa Tengah. Tarian ini seakan-akan bisa menghipnotis para penonton yang menyaksikan pertunjukan kesenian tersebut.
Tarian ini memiliki banyak sekali keunikan mulai dari sejarah, kostum, hingga alat musik pengiringnya. Sejarah dari tari gambir tidak banyak diulas oleh para seniman, tapi diketahui kesenian telah ada sejak Kesunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarata.
Kisah cerita dalam tarian ini tentang tokoh Irawan yang merupakan putra Arjuna tengah jatuh cinta pada lawan jenisnya.
Keunikan dari gerakan ini juga dapat kita lihat dengan jelas. Selain memamerkan gerakan yang gemulai, tari ini juga sedikit banyak memperlihatkan gerakan pantonim seperti berdandan, bingung dan lain sebagainya.
Ketika tarian ini dipertunjukkan dalam sebuah acara penghormatan biasanya penari akan mengalungkan sampur yang menjadi propertinya pada tamu agung tersebut. Hal itu menandakan penari mengajak tamu kehormatan tersebut untuk ikut menari bersamanya.
Selain sebagai media hiburan, secara tidak langsung tari klasik dari Jawa Tengah ini memiliki fungsi yang tersirat. Fungsinya sebagai sebuah nasehat bagi para pemuda dalam menghadapi masa remajanya dimana mulai merasa jatuh cinta.


3. Tari Kethek Ogleng
Seperti yang pernah dibahas, Tari Kethek Ogleng adalah salah satu Tari Tradisional Jawa Timur yang para penarinya berpenampilan cukup menyeramkan. Disebut menyeramkan karena para penarinya berpenampilan seperti Kethek.




Selain menjadi contoh tari klasik, ada hal unik pada tarian yang satu ini. Dimana tarian ini merupakan tari yang gerakannya menirukan tingkah lakunya kethek atau dalam bahasa dinamakan kera (monyet).
Awal kisahnya menceritakan seekor kera jelmaan Raden Gunung Sari dalam cerita Panji. Ia berupaya mencari Dewi Sekartaji yang menghilang dari istana. Untuk mengelabuhi penduduk agar bebas keluar masuk desa dan hutan, maka Raden Gunung Sari menjelma jadi seekor kera putih yang lincah.
Pada pertunjukannya disajikan berbeda-beda. Ada yang 4 penari, 6 penari, bahkan lebih. Tapi rata-rata tarian ini dibawakan oleh 4 penari, 3 penari perempuan dan 1 orang berperan sebagai kera.
Tarian ini diawali dengan masuknya ketiga penari perempuan ke panggung. 2 penari dari ke 3 penari perempuan tersebut memerankan sebagai dayang dan yang satunya memerankan sebagi putri kerajaan yaitu putri Dewi Sekarjati.

4. Tari Piring
Contoh tari klasik terakhir adalah Tari piring, merupakan tarian yang berasal dari suku Minangkabau yang sudah begitu terkenal di dunia. Tari piring dipercaya telah ada sejak sekitar abad ke 12 Masehi, terlahir dari kebudayaan asli masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat.
Sebelum masuknya Islam, masyarakat Minangkabau mayoritas masih beragama Hindu, Budha, dan sebagian Animisme. Jadi awal mula tarian ini tercipta untuk persembahan kepada dewa karena limpahan panen yang telah diberikannya.
Masuknya Islam ke pulau Sumatera pada abad ke 14 secara tidak langsung ikut mempengaruhi perkembangan Tari Piring. Peruntukan Tari Piring berubah semenjak agam islam menjadi mayoritas di masyarat. Tarian ini dipertunjukan hanya untuk acara hajatan atau hiburan semata.



Gerakan dalam Tari Piring adalah perpaduan yang laras antara seni tari yang akrobatis, indah, dan gerakan bermakna magis. Gerakan yang ditampilkan sangat beragam. Tarian ini berisikan 3-5 penari, ada juga yang berpasangan dengan lawan jenis.
Gerakan-gerakan tersebut secara keseluruhan sebetulnya menceritakan tentang tahapan-tahapan kegiatan dalam budidaya tanaman padi. Dimana hal tersebut menjadi mata pencaharian masyarakat minang tempo dulu.


5. Tari Bedhaya Ketawang
Tari Bedhaya Ketawang merupakan tari klasik dari Surakarta. Tarian ini dianggap sebagai simbol pertemuan antara Ratu Kencanasari atau Ratu Pantai Selatan dengan pendiri kerajaan Mataram yakni Panembahan Senapati. Pertemuan sakral direaktualisasikan lewat bahasa gerak Simbolis oleh sembilan penari wanita menjadi kekuatan kontekstual pada bentuk koreografi tariannya. Tarian ini seolah melukiskan jalinan cinta kasih antara raja Mataram dengan Kanjeng Ratu Kidul, maka busana yang dikenakan penari layaknya mempelai putri keraton, mengenakan kain dodot ageng, kain cinde, sampur, dan buntal. 


Tari Bedhaya Ketawang dipergelarkan saat peringatan ulang tahun kenaikan tahta atau disebut juga saat jumenengan Sang Raja di keraton. Pada saat dipentaskan tari tersebut akan terasa suasana yang lain dari biasanya. Lebih-lebih ketika terdengar suara rebab yang digesek, mengiringi keluarnya para penari dari Dalem Agung Prabasuyasa menuju ke Pendapa Agung Sasana Sewaka. Suasana menjadi hening, tenang, dan penuh kesunyian. 
Kesembilan penari dengan tenang dan khidmat berjalan dengan sikap yang anggun dan agung. Sesampainya dihadapan Sinuhun, para penari itu duduk bersila.

C. Tari Rakyat,
    Tarian ini memiliki gerakan dan pola langkah yang sederhana dan cukup mudah untuk dipelajari, meskipun telah mengalami penggarapan koreografi yang serius. Karena, tari rakyat terlahir dari budaya masyarakat pedesaan yang berada di luar tembok Keraton. Katakanlah tarian ini diciptakan dari dan untuk dinikmati oleh rakyat, sehingga tidak ada beban khusus terhadap kerajaan atau pihak penguasa lain yang menuntut nilai estetika agung.
    Berdasarkan pembagian tari memang terbagi menjadi Tari Rakyat, Tari Klasik (Tradisional) kemudian tari modern atau Kreasi baru. Namun untuk kali ini kita akan bahas mengenai tari Rakyat. Tari rakyat adalah Seni Tari yang hidup dan berkembang pada masyarakat tertentu sejak jaman primitif sampai sekarang. Tari Rakyat tidak pernah mengalami perubahan yang signifikan. Tari rakyat ini gerakannya cenderung diulang-ulang alias sedikit variasi dari jaman primitif sampai sekarang. Hanya saja sekarang ini tari rakyat tidak hanya menggunakan iringan musik yang sederhana seperti dulu, namun sekarang sudah menggunakan alat musik Gamelan.
    Tari Rakyat terkesan masih lugu, masih sangat sederhana. Tari rakyat biasanya jarang diketahui penciptanya. Walaupun tari rakyat ini sederhana, namun masih tetap memperhatikan unsur-unsur tari. Tari rakyat ini terkadang tidak memiliki gerakan yang baku dan sudah paten. Artinya jika tari tersebut diperagakan terkadang gerakannya berubah-ubah. Yang terpenting adalah gerak yang bermakna.
Seni tari rakyat sebagai wujud ekspresi penari dengan gerakan yang simple yang digunakan untuk kegiatan ritual keagamaan dan upaya magis untuk tujuan tertentu. Tari ini biasanya memiliki kekuatan magis yang orang awam tidak bisa mendeteksinya.

Ciri-ciri tari rakyat
Sederhana ( pakaian,rias,gerak dan ringan )
Tidak mengindahkan norma-norma keindahan
Memiliki kekuatan magis
Contoh tari rakyat :
  • Lengger

  • Tayub
  • Orek-Orek

  • Joget
  • Kubrasiwa
  • Buncis

  • Ndulalak

  • Sintren

  • Angguk

  • Rodat




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SENI LUKIS untuk Kelas IX SMP

  SENI LUKIS A. Pengertian Seni Lukis Dibawah ini merupakan beberapa ahli yang mengemukakan pendapatnya tentang pengertian seni lukis. 1. Ar...